Postingan

Kebebasan

 Malam sunyi, malam gelap. Nona pengirim sedang menuliskan surat suratnya tinta merah dengan sair yang indah "Aku mengirimkan cinta, tanpa harapan. Hanya untuk mengobati rasa sakit itu.Tuan pengantar tidur tak perlu tahu, aku mencintai mu dengan hampa. Surat yang kukirimkan selalu pulang dengan hati kosong, jiwa yang menangis. Aku tak terluka, akupun tak menyesal. Sebab aku tak mengharapkan apa-apa  Tuan, cintaku tak dapat terucap. Dalam kesunyian, aku temukan diri, cinta tak terbalas yang menjadi kebijaksanaan. Aku tak menyesal dan tidak menangis sebab cintaku telah menjadi suatu keabadian. Dalam kesunyian aku kehilanganmu, hal tersebut mengajarkan ku makna kekosongan, kekuatan jiwa. Dan cinta bukanlah perihal kepemilikan. Tapi kebebasan  Dalam malam hening ini aku menemukan diriku yang masih mencintaimu, dalam hati cinta hanya bermetamorfosis, menjadi kebijaksaan  Dalam kesadaran, aku menemukan maknanya. Cinta bukanlah keposession, tapi kebebasan. Untuk mencintai t...

Tujuan Selajutnya?

Mengasingkan diri saat terluka adalah senjata terbaikku. Rasanya masih sama, harapannya saja yang berbeda. apa tujuan selanjutnya? Kata apa yang lebih baik dari Kehancuran tuan. air mata yang trus mengalir ataukah air mata yang sudah tak mampu keluar?. pantulan cermin masih sama namun kali ini bayangannya yang tidak ada, entah mengapa awan gemar sekali memperlihatkan kegelapannya. apakah matahari yang enggan muncul ataukah hujan yang sedang gemar-gemarnya membasahi bumi.  gaun putih yang terpajang sekarang bagai hiasan dinding saja. pada gaunnya menggambarkan harapan akan penantian  cinta si Tuan Pengatar Tidur. Mata tertutup dengan nafas yang tak lagi berhembus. semua hadirin bertanya, kemana perginya si Nona pengirim. Diam, Sunyi dan Gelap tubuh kaku itu sudah tak dapat lagi menuliskan puisi cintanya. ia telah bertemu dengan tujuan selajutnya. dunia yang tak memaksanya untuk terus mengerti, dunia yang tak membuatnya mengemis akan dicintai. bukannkah itu kebahagian bagi merek...

Abadi

 Semesta mempertemukan kita kembali tuan, padahal aku telah berusaha bersembunyi di sudut² terkecil bumi.  engkau menghampiri ku dan mengungkapkan rasa penyesalan mu atas semua yg terjadi sebelumnya. Adai kau tau. Tuan bertahun² perpisahan kita yang selalu kupertanyakan pada tuhan kenapa rasa cintaku padamu belum kunjung pudar padahal engkau telah mengkhianatiku. Engkau tau tuan setelah perpisahan itu, setelah aku mengetaui semua yang seharusnya tidak aku ketahui, tanpa ku sadari aku hampir mati dan sampai sekarang aku masih mencari penawar untuk kesembuhanku, aku berkelana di seluru penjuru cinta kata mereka tak ada obatnya. Sampai semesta berbisik padaku bahwa engkau lah penawaran, engkaulah obatnya. Dan kau tau apa yang kulakukan. Aku memilih untuk mati. Aku mencintaimu dan kubiarkan cinta itu menjadi racun dalam diriku, tak peduli engkau berbuat apa padaku jawabannya tetap sama Aku mencintaimu. Namun untuk kembali padamu adalah kemustahilan, kan kubiarkan engkau memilihnya...

berakhir atau berhenti

Pantaskah surat-surat itu terpajang di meja kamar, sedang pemiliknya tak pernah membukanya. Sudahlah..pada siapa juga ia ingin mengirimnya. Bait-bait yang berbicara mengenai kehidupan baru tanpa si pengantar tidur.  Bait-bait yang bercerita perihal kepedihan atas kesuyian. Bait-bait yang menjadi saksi setiap tetesan kerinduan akan cerita hari kemarin  kemana perginya sang pengirim dan kemana hilangnya sang pengantar tidur? telah berakhir atau hanya terjadi jeda pada penulisan karena tintanya yang telah habis ataukah cintanya? kalau begitu mengapa tidak di akhiri saja penulisan bukunya. kita akhiri dengan cerita menyenangkan atau dengan kepedihan saja. apa sebabnya? apakah itu membutuhkan jawaban?. Tak perlu  bukankah hari esok merupakan kejutan baru untuk sang pengirim. Jawabnya telah ada. Namun sang pengantar tidur memilih memendamnya.  Agar lukaku tidak menjadi luka bagimu. Biarlah begitu. Lalu bukunya? berakhir!

Pemakaman

 Tenang lah disana Peti mati yang ku siapkan untuk mu telah ku percantik dengan bunga-bunga ketulusan  tak perlu khawatir atas kesepian, kesendirianmu dalam peti itu telah ku ramaikan dengan doa-doa  kecupan terakhir pada wajah pucat tak bernyawa memberikan makna akan cinta  meleburlah bersama dengan semesta, mereka takkan berani untuk menghancurkanmu, karena aku telah dulu mengadukan namamu pada Tuhan. Ribuan surat rindu yang ku kirim melalui terpaan angin, disambut dengan kicauan burung yang terbang di atas makammu.   tenanglah kasih. ku aman ada bersamamu. Selamanya 

estetika

  Esensi dari keindahan manusia bukan hanya dari fisik tetapi juga dari fungsi dan kebermanfaatannya. Tetapi apakah Tuhan sesederhana itu menciptakan manusia. Alam pun indah dan bermanfaat. Manusia lebih dari ituu. Mereka lebih dari kata indah. Mereka sempurna   Suatu hari kucoba berjalan-jalan ke alam untuk menikmati keindahannya namun bukannya terpesona aku malahh mengingatmu.. “Alam ini sangat indah bukan Namun seandainya engkau di sini, aku yakin alam akan cemburu dangan keindahanmu”  Barangkali saat namamu di tuliskan, semesta juga menuliskan takdir indah bersama dengan hujan yang mendoakan kebahagiaanmu.  Barangkali saat penciptaan semesta, tuhan juga menciptakan kesempurnaan pada dirimu.  Bolehkah aku menatap kembali mata seduh itu? Boleh kan sejenak saja aku merasakan genggaman hangatmu ?